![]() |
| Gua(rumah) Umang yang banyak ditemukan di wilayah -wilayah Karodiyakini tempat tinggal manusia Purba. |
Dikemudian hari, terjadi persengketaan antara suku Karo dengan kaum hindu di Aceh, sehingga untuk menyelesaikan pertikaian ini disepakati diadakan perang tanding antara tiga ratus(300) orang suku Karo melawan empat ratus(400) kaum Hindu di sebuah lapangan terbuka. Namun pada akhirnya pertikaian ini berakhir dengan damai, dan sejak saat itu suku Karo disana disebut kaum tiga ratus atau Kaum Lhee Reutoih dan kaum Hindu disebut kaum empat ratus. Kemudian hari terjadi percampuran antara suku Karo dan kaum Hindu, dan kelompok percampuran ini disebut dengan Kaum Jasandang.
![]() |
| Sapo Karo di Kuta Raja (Banda Aceh) |
Diyakini,hindu sudah masuk ke nusantara, juga ke Karo(Aru/Haru) di awal-awal tahun Masehi,dimana dipercaya aksara Palawa(wenggi) mulai diperkenalkan bersaman dengan bahasa Sansekerta,dan diikuti oleh Budha lima abad kemudian (abad ke-5 M) bersamaan dengan masuknya aksara Nagariyang diyakini menjadi cikal bakal lahirnya tulisen karo), aksara Melayu Kuno, JawaKuno, Batak, dll. Mereka(misionaris zending Hindu) merupakan penganut Senata Dharma. Hal ini didukung dengan ditemukannya sebuah inskripsi pada batu bertulis di Lobu Tua, dekat Barus (pantai barat Sumatera bagian Utara), yang ditemukan oleh G.J.J. Deuts pada tahun1879 M. Tulisan tersebut di tahun 1932 oleh Prof. Nilakantiasastri, guru besar dari Universitas Madras diterjemahkan. Maka, diketahuilah bahwa pada tahun 1080 M, di Lobu Tua tak jauh dari Sungai Singkil ada permukiman pedagang dari India Selatan. Mereka orang Tamil yang menjadi pedagang kapur barus yang menurut tafsiran membawa pegawai dan penjaga-penjaga gudang kira-kira 1. 500 orang. Mereka diyakini berasal dari negeri-negeri di Selatan India, seperti: Colay(Cōla), Pandya(Pandyth), Teykaman,Muoham, Malaylam, dan Kalingga (Orysa). Sekitar tahun 1128-1285 M karen terdesak oleh misi dagang dan siar Islam yang dilakukan serdadu dan pedagang Arab serta Turki(ada beberapa ahli berpendapat jikalau mere terdesak oleh sedadu Jawa, Minang, ataupun Aceh), maka kaum Tamil di Barus mengungsi ke pedalaman Alas dan Gayo (di Kabupaten Aceh Tenggara), dan kemudian mendirikanKampung Renun. Ada juga yang menyingkir lewat Sungai Cinendang, lalu berbiak di pelosok Karokemudian mendirikan kuta(kampung) Lingga, serta Sembiring Singombak yang diantaranya: Sembiring Brahmana, Pandia, Colia, Guru Kinayan, Keling, Depari, Pelawi(Pahlawi/Palawa), Bunu Aji, Muham, Busok, meliala, Maha, Tekang(Teykang), Pande Bayang, dan Kapur. “Bayangkan, bangsa dari negeri yang jauh berlayar ke nusantara dengan peradaban yang tinggi harus berbaur dan mau mengaku Karo demi sebuah kehidupan. Dari hal ini dapat kita asumsikan kalau Haru(Karo) itu adalah tempat yang nyaman bagi seluruh bangsa dan juga telah memilik peradapan yang tinggi pula.”
Menurut tafsiran(berdasarkan data yang ada), kita dapat berasumsi bahwa Bangsa Tamil yang sudah berbiak dan ber-merga di Karo itulah membawa budaya Hindu ke Karo dan diadaptasikan dengan kepercayaan pemena yang telah ada di Karo, dan bukan tidak mungkin yang pernah berkembang di Selatan India, karena jika ditinjau dari segi bahasa,Pemena=pertama, awal, dasar. Bandingkan dengan Senata Dharma(Hindu) yang juga berarti senata = awal, dasar, dll; dharma = ajaran, kepercayaan, dll; jadi, Senata Dharma = kepercayaan(agama) pertama. Jadi, dari segi ini kita sepakat, bukan? Namun, tidak cukup ditinjau dari segi bahasa saja. Ada beberapa tradisi Pemena yang sama dengan Senata Dharma, diantaranya: upacaraPakuwaluh(membakar dan menghanyutkan abu jenazah) yang dilakukan di Lau Biang(Lau: sungai, biang: anjing) dengan dimasukkan dalam sebuah guci diatas perahu dengan panjang sekitar satu meter. Mengapa dilakukan di Lau Biang? Dalam tafsiran masyarakat dahulu, Lau Biang yang perpanjanganya adalah Sungai Wampu di Langkat mengalir ke Selat Malaka dan dari sana dengan tuntunan roh-roh akan mengalir ke Samudra Hindia dan selanjutnya akan sampai di Sungai Gangga di India.
Bukan itu saja, banyak tradisi di Karo yang sama dengan kebiasaan masyarakat di Selatan India, antara lain: masyarakat Karo dahulu selalu melakukan doa di malam bulan purnama serta menyanyikan mangmang/tabas(mantra/doa) dengan cara ngerengget seperti para pendeta Hindu melantunkan mantr; Mbesur-besuri, nengget, mbaba anak ku lau, erpangir, ergunting,erkiker(memotong gigi), dll. Dan, dahulu wanita-wanita di Karo juga suka membuat titik merah dikeningnya seperti halnya yang dilakukan wanita-wanita di India(sekarang juga bagi pemeluk kepercayaan pemena). Ikuti link ini: dan dengarkan lagu ke-5, dimana seorang melantunkan mangmang/tabas(mantra) Karo (Title : Sumatra. 14, Berastagi and Kampung Doulu, Kabanjahe, North Sumatra; Creator : Margaret J. Kartomi; Contributor : Monash University. Faculty of Arts. School of Music-Conservatorium; Date : 1971; Recording session 1 (30 Dec. 1971 in Berastagi) : No.1. Pencak (continued from MK1-SUM0147) ; No.2. Gelang-gelang ; No.3. Pencak ; No.4. Mulih-mulih ; No.5. Mantera)
Dalam hal seni, beberapa tafsiran juga muncul, diantaranya rengget(cengkok) Karo yang hampir sama dengan cara orang India untuk melantuntak mantra, suara sarune(serunai) yang tinggi di Karo yang endekna(cara permainannya) sama seperti teknik vocal wanita di India, serta beberapa perkusi Karo yang juga serupa dengan yang ada di India.
Berdasarkan pada catatan seorang pelaut Cina bernama Fahien yang melakukan perjalanan di tahun 414 M, Aru/Haru sudah ada walau tidak dijelaskan letaknya secara pasti. Dan, abad ke-9 Mkembali muncul beberapa nama kerajaan seperti: Rami(Lamuri[-di] di Aceh), Balus(Barus),Jahé(Sriwijaya), Melayu, dan Harlanj(Aru/Haru/Karo).
Dalam tradisi Karo sendiri, dikatakan Haru berdiri sekitar tahun 685 M yang berpusat disekitar Teluk Haru(Langkat) dengan rajanya yang pertama bernama Pa Lagan. Dikemudian hari, karena seringnya terjadi peperangan di wilayah-wilayah Haru ini, maka pusat kerajaan mengalami perpindahan ke pedalaman Deli, namun karena saat itu tidak ditemukan kesepakatan akan pusat kerajaan dan kekuasaan maka pada akhirnya kerajaan ini terbagi atas beberapa kerajaan besar dan juga urung-urung. Adapun kerajaan-kerajaan pecahan Haru itu, diantaranya: Kerajaan Haru Mabar,Kerajaan Haru Wampu, Kerajaan Haru Kuta Buluh, Kerajaan Haru Pasé, Kerajaan Haru Lingga Timur Raya, dan Kerajaan Haru Deli Tua.
Tahun 860 M, Kerajaan Haru diserang oleh Sriwijaya(Jahé) di Teluk Haru(Langkat) tetapi tidak berhasil, namun banyak penduduk Haru yang pindah ke Alé(Deli Tua) dan Gugung(pegungungan/dataran tinggi Karo) untuk menghindari peperangan. Pada masa-masa inilah banyak masyarakat Aru/Haru(Karo) yang bermigrasi ke pegunungan, sehingga diyakini dimasa ini-lah awal munculnya sebutan kalak jahé(orang hilir) ataupun Karo Jahé(orang Karo dari hilir). Adapun peninggalan serangan Sriwijaya itu ialah para serdadu Sriwijaya yang tertinggal dan tertawan yang kemudian beradaptasi dengan budaya Karo dan masuk menjadi bagian salah satu dari merga Karo-korosub-merga Karo-karo Paroka.
Di tahun 1000 – 1449 M di Eropah diketahui setidaknya 12 orang telah menggunakan kataMunthé(Muté) ini dibelakang namanya, salah satunya adalah Ascricus van Munthe(1072) dariVlanderen yang sekarang merupakan wilayah Belgia. Apakah mungkin Munte yang di Sumatera sudah sampai di Belgia di Tahun 1000? Jika kita berpatok pada masa kemunculan kerajaan Haru(Karo), Nagur(Simalungun), dan Padang Lawas serta Pané(Mandailing), ya mungkin saja! Mengingat, setidaknya aktivitas pelayaran internasional di Barus sudah dimulai sejak abad ke-5 M. Bahkan diNorwegia, di abad ke-16 muncul Ludvig Munthe. Mengingat jarak antara Belgia dengan Norwegia yang sangat jauh(…) apakah keluarga Munté Belgia ini sama dengan Munté di Norwegia? Namun, jika ditinjau dari faktor waktu(tahun 1000 – 1500’an) dan geografis hal ini juga sangat memungkinkan terjadi, mengingat pelabuhan Belgia yang berhadapan langsung dengan Laut Norwegia melalui Laut Utara yang diapit kepulauan Britania Raya di barat dan di sebelah timur dikelilingi Belanda, Jerman, dan Denmark. Bahkan, silsilah dari Ludwig Munthe(1593-1649) ini disusun dengan sangat rapih olehSeverre Munthe, dalam buku Familiem Munthe In Norge. Sekitar tahun 1995 diperkirakan jumlah keturunannya lebih lima ratus jiwa. Munthe di Norwegia ini juga mengakui dan menyatakan bahwaVlanderen(Belgia) adalah tanah asal leluhur mereka ( dokumen terlampir. Dari cerita diatas, maka timbullah pertanyaan besar: apakah Munte(Munthe) di Belgia, Norwegia, dan wilayah Eropah lainnya mencerminkan atau bahkan satu nenek moyang dengan Munthe yang tersebar di nusantara? Dan, darimanakah alsal Munthe ini sesungguhnya? Ya, itu pertanyaan yang menjadi misteri besar, tetapi setidaknya ada beberapa tradisi yang mendukung keberadaan Munthe itu lebih awal di utara Danau Toba(Karo), yakni: Tradisi Ginting Munthe.itu sendiri, yang didukung oleh tradisi Ginting Pasé, ginting munthe Seraggih Munthe(Simalungun), Dalimute(Labuhan Batu) Karo-karo Sinulingga(tradisi Karo) dan juga tradisi simalungun
Sebuah cerita menarik, pernah dikatakan seorang Anthrofologi ber-merga Munté yang tinggal diMadagaskar asal Norwegia mengunjungi Kuta Ajinembah(Tanah Karo/Larolanden), diantar oleh Pengurus nomensa dan diterima oleh Pendeta pentakosta Ajinembah (1971 ). Beliau mengemukakan bahwa leluhurnya berasal dari Ajinembah dan mengatakan dalam bahasa ibunya dengan mbulan. (Penutur, penduduk Ajinembah, 2001 dalam buku Kenangan Marga Munthe, hal. 221).
Kuta(Kampung) Munte terletak di Kab. Karo, Sumatera Utara dan sekarang menjadi nama sebuah wilayah kecamatan di Kabupaten Karo.
![]() |
| Geriten Karo di Istana Sultan Deli (1877) |
Tahun 1331 M dibawah pinpinan Maha Patih Gajahmada kerajaan Majapahit menyerangHaru, tetapi gagal menaklukkan Haru, sehingga beberapa serdadunya yang tertinggal dan tertawan menjadi rakyat Haru dan masuk menjadi salah satu merga Peranginangin dengan sub-mergaPeranginangin Jab.
Dalam Sejarah Majapahit sendiri, nama Haru berulang kali disebut-sebut, hal ini menjadi bukti akan kebesaran Kerajaan Haru di-zaman itu dan menjadi salah satu negara kuat yang susah untuk ditaklukkan oleh kerajaan terbesar di nusantara ini(Majapahit), membuat seorang maha patih menjadi resah dan mengikrarkan sumpah akan menaklukkannya. Kisah ini juga dengan jelas diceritakan dalam buku “Karo dari Jaman ke Jaman” karya pujangga terkenal India yang bernama Brahma Putro. Berikut petikan sumpah palapa dari Maha Patih Gajah Mada, Patih Amangkubhumi Majapahit.
Sumpah Palapa adalah suatu pernyataan/sumpah yang dikemukakan oleh Gajah Mada saat upacara pengangkatannya menjadi Patih Amangkubhumi Majapahit , tahun 1258 Saka (1336 M). Sumpah Palapa ini ditemukan pada teks Jawa Pertengahan Pararaton yang berbunyi, sebagai berikut:
Sejarah Dinasti Ming menyebutkan bahwa penguasa Haru, mengirimkan upeti pada Cina tahun 1411 M. Setahun kemudian Haru dikunjungi oleh armada. Pada 1431 M Cheng Ho kembali mengirimkan hadiah pada raja Haru, namun saat itu Haru tidak lagi membayar upeti pada Cina. Pada masa ini Haru menjadi saingan Malaka sebagai kekuatan maritim di Selat Malaka. Konflik kedua kerajaan ini dideskripsikan baik oleh Tome Pires dalam Suma Oriental(disebutkan bahwa kerajaan Haru merupakan kerajaan yang kuat Penguasa Terbesar di Sumatera yang memiliki wilayah kekuasaan yang luas dan memiliki pelabuhan yang ramai dikunjungi oleh kapal-kapal asing. Dalam laporannya, Tomé Pires juga mendeskripsikan akan kehebatan armada kapal laut kerajaan Aru yang mampu melakukan pengontrolan lalu lintas kapal-kapal yang melalui Selat Malakapada masa itu.) maupun dalam Sejarah Melayu. Dimana sebelumnya di tahun 1282 M Haru mengirim misi ke Tiongkok.
Dalam ekspedisi maritim Tionghua tahun 1413 M Ying-yai Sheng-lam, disebutkan “A-lu(Aru, Haru/Karo)” merupakan penghasil kemeyan; dan sumber Tionghua lainnya Hsing-ch’a Sheng Lammenyebutkan “A-lu” sebagai penghasil beras, kemeyam, bahan-bahan aromatik, kamper, dll.
Dalam Wu Pei Shih(Peta Cina, 1433 M) disebutkan, ketika armada Cina berlayar dari arah barat saat hendak kembali ke Cina, mereka melalui kerajaan-kerajaan sebagai berikut: Su Man Ta La(Samudra Pasai), Chu-Shui Wan(Lhok Seumawe), Pa Lu T’hou(Perlak), Kum Pei Chiang(Tamiang), Ya Lu(Haru/Karo), Tan Hsu(Pulau Berhala), dan seterusnya.
Januari dan November 1539 M, Haru diserang oleh Sultan Aceh Al Qadar(Sultan Alaidin Riyad Shah – I) dan kejadian ini dituliskan oleh Ferdinand Mandez Pinto yang merupakan seorang utusan Portugis saat mengunjungi Haru(Haru II/Deli Tua) dari Malaka setelah menempuh lima hari perjalanan hingga sampai di ibu negeri Haru II(Deli Tua).
Tahun 1511 M Haru diserang oleh Malaka namun tidak berhasi. Kemudian ditahun 1515 M Haru kembali diserang kali ini oleh Aceh dan Portugis namun juga tidak berhasil. Dan, para peneliti meyakini dimasa iniliah pusat kerajaan Haru benar-benar berpindah dari Teluk Haru(Langkat) ke Alé(Deli Tua).
![]() |
| "Geriten di Istana Maimoon" sumber photo: |
Dalam suratnya kepada bertahunkan 1539 M mengatakan Aceh telah menyerang Haru sebanyak dua kali, yakni di bulan Januari dan November 1539 M. dan saat tiba di Aceh tertanggal 21 Juni 1599 mengutarakan beberapa kerajaan besar di Sumatera, dan Aceh. Di-tahun 1591 MAli Jalal menumpas pasukan Aceh dan berhasil mengalahkanya di Haru yang dimana tahun 1612 M Aceh kembali menyerang balik, dilanjutkan denga serangan di tahun 1624 M yang menjadi titik runtuhnya kerajaan Haru di kawasan pesisir serta takluk kepada Aceh. Dengan demikian, kekuatan Haru hanya tinggal di-kawasan pegunungan Karo saja yang hingga kedatangan Belanda belum bisa ditaklukkan oleh kerajaan-kerajaan lainnya terkhususnya Aceh. Baru di-tahun 190m kolonial Belanda berhasil mengalahkan kerajaan Haru terakhir(Haru Kuta Buluh/Kesebayaken Kuta Buluh) dan menjatuhkan hukuman kurungan seumur hidup kepada (raja) Haru Kuta Buluh,(Pa Tolong). Dengan demikian seluruh wilayah Haru(Karo) telah takluk!
Dari penggalan-penggalan fakta sejarah diatas, maka kita dapat menarik beberapa kesimpulan, yang mungkin jika kita berpaling pada tradisi-tradisi yang ada(opini publik yang digiring baik sengaja atau tidak) akan terasa janggal, diantaranya:
1.
Suku bangsa Karo telah ada diawal bahkan sebelum memasuki tahun Masehi. Hal ini merujuk pada tahun-tahun yang diyakini berdirinya kerajaan Haru(Karo), setidaknya antara priode abat I hingga abad ke-6. Logika-nya, untuk membentuk ataupun mendirikan sebuah kerajaan besar, tidak-lah mungkin dalam waktu yang singkat, dengan ilmu pengetahuan yang minim, serta jumlah sumber daya manusia yang cukup. Dalam tradisi Karo, untuk membentuk satuan administrasi kuta(satuan/kerapatan dari beberapa kesain) saja harus setidaknya memiliki kelengkapan diantaranya seperti berikut:
| Geriten(munumen) Togan Raya-Batu Malar. Tugu peringatan kedatangan manusia pertama suku Karo yang berasal dari daratan India sekitar 200 Tahun Sebelum Masehi. |
- Terdiri dari beberapa kesain yang telah berkembang, sehingga nantinya akan disatukan(dinaikkan setatusnya) menjadi kuta.
- Memiliki rumah adat yang menjadi tempat tinggal dan pertemuan. Serta perangkat-perangkat dalam rumah adat ini juga telah terpenuhi, baik kebendaannya maupun organik(penghuni).
- Memiliki kesain(beranda desa/alun-alun) sebagai tempat pertemuan, bermain anak-anak, penjemuran dan penumpukan hasil tani terkhususnya padi. Dalam sebuah kuta, setidaknya harus memiliki satu kesain dan untuk kuta-kuta yang besar bahkan lebih dari tiga atau empat kesain.
- Memiliki jambur sebagai tempat pertemuan, lumbung pangan, tempat muda/i bercengkramah dan belajar, tempat memasak saat pesta, tempat lajang tidur dimalam hari, dan tempat pertandang(musafir/tamu) bermalam;
- Memiliki geriten sebagai tempat mengumpulkan/menyimpan tulang belulang leluhur yang dianggap sebagai tokoh/teladan di kuta tersebut;
- Memiliki peken(reba) sebagai tempat anggota kuta untuk menanam tanaman keras yang diana luasnya ditentukan oleh pertemuan baluren(lembah);
- Memiliki pendonen sebagai tempat mengubur zenajah anggota kuta;
- Memiliki perjuman yang merupakan berbatasan denga peken yang diperuntukkan bagi warga umum dan juga tanaman umum;
- Memiliki kerangen(hutan) sebagai pengimbang alam, pemasok udara, dan air segar bagi masyarakat desa yang dimana ada larangan untuk menebang pohon(hanya boleh mengambil ranting sebagai kayu bakar), disampin kerangen ada juga deleng rimbun raya dimana di hutan ini-lah baru diperbolehkan menebang kayu untuk memproduksi balok-balok besar untuk keperluan bangunan maupun untuk dijual;
- Memiliki barung yang merupakan tempat mengembalakan hewan jinak, berupa padang rumput yang luas namun terbatas atau bisa dikatakan lokasi peternakan alam;
- Memiliki Perjalangen yang merupakan padang rumput luas dan tak terbatas. Dimana hewan ternak bebas berkeliaran dan tidak digembalakan;
- Memilik tapin(MCK umum) yang minimal satu kuta harus memiliki dua lokasi tapin yang berjauhan, karena adanya adat rebu(tidak saling sapa) dalam adat Karo;
- Memiliki buah uta-uta sebagai tempat pemujaan atau persembahyangan bagi penganut ajaran Pemena(agama/kepercayaan Karo).
Itu-lah syarat yang harus dipenuhi untuk memperoleh setatus kuta! Itu masih dalam hal perangkat, belum lagi proses pendiriannya yang tentunya memakan waktu yang panjang. Bagaimana pula jika mendirikan sebuah kerajaan Urung ataupun Kesebayaken? Hm.. mungkin butuh waktu sekurang-kurangnya 100 tahun, bukan begitu? Jadi, sangatlah masuk akal jika Karo itu sudah ada diawal-awal atau bahkan sebelum memasuki tahun Masehi, mengingat masa pendirian dari kerajaan besar Haru(Karo).
2. Karo, telah ada saat masa kemunculan Si Raja Batak(abad ke-13). Maka, muncullah pertanyaan!Mungkinkan Karo juga keturunan dari Si Raja Batak yang dalam tradisi Batak(Toba) adalah nenek moyang seluruh bangsa Batak? Dimana notabene-nya Karo lebih tua dari Si Raja Batak! Jadi, dalam hal ini terbukti bahwasanya karena Karo lebih tua dari Si Raja Batak, atau setidaknya hidup kerajaan Aru/Haru(Karo) bersamaan dengan masa hidup Si Raja Batak, jadi dalam hal ini perlulah kiranya jangan lantas kita menerima begitu saja ataupun menjatuhkan vonis kepeda seseorang ataupun kelompok etnis atas dasar opini umum publik semata!
3. Karo = Haru = Aru = Alé = A-lu = Ya-lu = Ya lo = Carrow = Karau = Karaw = Haro = Harw = Haraw = Harladji = Harlanj = Haro-haro = Guru = Gori.
4. Kerajaan Haru Karo (Kuta Buluh) adalah kerajaan terakhir, setidaknya di Sumatera bagian Utara yang ditaklukkan oleh kolonial Belanda. Dan, tidak ada dalam sejarah tentang adanya bangsa dan negeri Batak seperti yang digembar-gemborkan seperti pada saat ini. Dan, tidak ada sejarahnya suku bangsa Karo hidup di negeri Batak ataupun berajakan raja Batak. Yang ada dan berkuasa di Karo: Sibayak-Sultan, Raja Urung, Pengulu, Pengulu Kesain, dll.



